Latest Post

e-PKB Pastikan Guru Bisa Belajar Mandiri

Mekanisme Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Dalam Perencanaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan elektronik pengembangan keprofesian berkelanjutan (e-pkb), dalam roadmap yang sedang,tengah dan akan berjalan ini pada mekanisme pengembangan profesi guru Ditjen GTK telah memaparkan sebagai berikut penjabarannnya.
Catatan :
  • SKG = Standar Kompetensi Guru
  • PKK = Penilaian Kompetensi dan Kinerja
  • UKG = Uji Kompetensi Guru
  • PKG = Penilaian Kinerja Guru
PKK   Penilaian Kompetensi Kinerja, Meliputi
PKG,  Penilaian Kinerja Guru
 UKG Uji Kompetensi Guru
Prestasi Belajar Siswa
tiga kriteria diatas akan menjadi dalam satu kesatuan Raport Guru dalam berbagai kebijakan akan jadi pertimbangan Insentif Berbasis Kompetensi dan Kinerja.

UKG merupakan penjabaran bentuk uji tertulis terhadap kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, sementara PKG Obeservasi terhadap:
Kompetensi Pedagogi
Kompetensi profesional
Kompetensi Sosial
Kompetensi Kepribadian

Yang akan dinilai oleh
1. Kepala Sekolah
2. Pengawas
3. Komite Sekolah
4. Siswa
5. Dunia Usaha dan Industri

Mekanisme Pengembangan Keprofesian dalam e-PKB atau elektronik pengembangan keprofesian berkelanjutan,  Menu e-PKB 40% e-PKB dilaksanakan secara mandiri di rumah maupun di sekolah baik jenjang TK, SD,SMP,SMA dan SMK.

Dan Pada Kelompok Kerja sebagai salah satu wadah peningkatan kompetensi guru dalam pengembangan profesinya yang saat ini
KKG
MGMP
KKKS/KKPS
KKPS/MKPS

20 % (persen) e-PKB dilaksanakan pada kelompok kerja GTK dengan mendapatkan dana langsung dan pendampingan dari instruktur yang terlatih (NCT, PCT, dan DCT)
GTK mengikuti PKB dengan menu yang tersedia sesuai dengan skor UKG1 untuk mencapai UKG2. Apabila target skor UKG2 tercapai  GTK selesai mengikuti PKB. Apabila tidak, GTK harus mengulang PKB sampai UKG2 tercapai

Pengembangan Modul PKB, Modul Selalu di Review dan di Kembangkan Oleh Widyaiswara PPPPTK, Jumlah Widyaiswara 656 di seluruh PPPPK Tiap tahun Memperbaharui Modul

Program Widyaiswara
*Min 1 WI satu modul tiap tahun
*Modul baru atau pembaharuan
*Bisa juga modul interaktif
*Hasil karya (modul) dilombakan
*Penghargaan OJT ke LN
*Penghargaan Short Course LN


Masih ingatkah operasi hitung campuran di kelas III SD yang lalu Pada Bilangan Cacah? tentu masih ingat, Matematika ini jika kita menyukainya tidaklah banyak hal yang susah diingat sungguh asyik belajar Matematika, Untuk mengingatnya kembali, perhatikan
Aturan operasi hitung campuran berikut.
  • 1. Operasi dalam tanda kurung harus didahulukan.
  • 2. Operasi perkalian dan pembagian setingkat. Selesaikan perhitungan dan sebelah kiri ke kanan.
  • 3. Operasi penjumlahan dan pengurangan setingkat. Selesaikan perhitungan dari sebelah kiri ke kanan.
  • 4. Operasi perkalian dan pembagian lebih tinggi daripada penjumlahan dan pengurangan. Perkalian dan pembagian harus dikerjakan dahulu.
Contoh:
Hitunglah:
1. 21 + 4 × 5 = ....
2. 65 × (22 + 32) = ....
3. 160 – 12 × 13 + 210 = ....
4. 1.750 + 1.500 : 30 – 1.250 = ....
Jawab:
1. 21 + 4 × 5 = 21 + (4 × 5)
= 21 + 20
= 41
2. 65 × (22 + 32) = 65 × 54
= 3.510
3. 160 – 12 × 13 + 210 = 160 – (12 × 13) + 210
= 160 – 156 + 210
= 4 + 210
= 214
4. 1.750 + 1.500 : 30 – 1.250 = 1.750 + (1.500 : 30) – 1.250
= 1.750 + 50 – 1250
= 1.800 – 1250
= 550

Penaksiran Dan Pembulatan
1. Pembulatan
Hal yang harus diperhatikan pada pembulatan bilangan adalah angka pada tempat
nilai satuan. Pembulatan ke puluhan terdekat
1) Angka satuan di bawah 5 dibulatkan ke bawah (puluhan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 5 dibulatkan ke atas (puluhan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 78 dan 52 ke puluhan terdekat.

Jawab:
a. 78 dibulatkan menjadi 80
b. 52 dibulatkan menjadi 50
b. Pembulatan ke ratusan terdekat
1) Angka satuan di bawah 50 dibulatkan ke bawah (ratusan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 50 dibulatkan ke atas (ratusan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 172 dan 521 ke ratusan terdekat.
Jawab:
a. 172 dibulatkan menjadi 200
b. 521 dibulatkan menjadi 500
c. Pembulatan ke ribuan terdekat
1) Angka satuan di bawah 500 dibulatkan ke bawah (ribuan tetap).
2) Angka di atas atau sama dengan 500 dibulatkan ke atas (ribuan bertambah).
Contoh:
Bulatkan bilangan 7.895 dan 12.164 ke ribuan terdekat.

Jawab:
a. 7.895 dibulatkan menjadi 8.000
b. 12.164 dibulatkan menjadi 12.000
Sekarang, kamu dapat melakukan pembulatan pada bilangan puluhan ribu, ratusan
ribu, daripada bilangan jutaan. Perhatikan contoh berikut.
a. 45.358 dibulatkan ke puluhan ribu menjadi 50.000
b. 219.847 dibulatkan ke ratusan ribu menjadi 200.000
c. 1.793.469 dibulatkan ke jutaan menjadi 2.000.000

Operasi Hitung Penjumlahan,Pengurangan,Perkalian Dan Pembagian Bilangan Bulat

Pada Kelas 4 Sekolah Dasar semester 1 dengan standar Kompetensi Memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah. Dengan Kompetensi Dasar Mengidentifikasi sifat-sifat operasi hitung,
Tujuan Pembelajaran Siswa dapat Mengetahui jenis operasi hitung dengan penanaman nilai  disiplin ( Discipline ) (NK, disiplin ( Discipline )

  • Siswa dapat Memberikan contoh sehari-hari yang berhubungan dengan operasi hitung
  • Siswa dapat Melakukan penjumlahan dan perkalian dengan nol
  • Siswa dapat Melakukan perkalian dengan satu
  • Siswa dapat Melakukan perkalian dua angka dengan angka sebelas
  • Siswa dapat Melakukan penjumlahan dan perkalian tiga bilangan berurutan
  • Siswa dapat Mengidentifikasi sifat penyebaran dalam perhitungan  secara tekun ( diligence ) ( NK. tekun ( diligence )

Operasi Hitung Bilangan 
Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat , menjumlahkan bilangan positif, menjumlahkan bilangan bulat negatif menjumlahkan bilangan bulat postif dan negatif
Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan bilangan positif.
Contoh -6 + 8 = 2, digambarkan pada garis bilangan.

Perkalian Bilangan Bulat
Perkalian adalah penjumlahan berulang sebanyak bilangan yang dikalikan.
Contoh:
2 x 3 - 3 + 3 = 6

Sifat-sifat perkalian suatu bilangan
a. Perkalian bilangan positif dengan bilangan positif, hasilnya positif.
Contoh:
1) 4 x 5 = 5 + 5 + 5 + 5 = 20
2) 7 x 8 = 56
3) 12 x 15 = 180
b Perkalian bilangan positif dengan bilangan negatif, hasilnya negatif.
   Contoh:
    1) 4 x (-5) = (-5) + (-5) +(-5) +(-5) = -20
    2) 7 x (-8) = -56
    3) 12 x (-15) = -180
c. Perkalian bilangan negatif dengan bilangan positif, hasilnya negatif.
    Contoh:
    1) -4 x 5 = -(5 + 5 + 5 + 5) = -20.
    2) -7 x 8 = -56
    3) -12x 15 = -180
d. Perkalian bilangan negatif dengan bilangan negatif, hasilnya positif.
    Contoh:
    1) -4 x (-5) = -[-5 + (-5) + (-5) + (-5)] = -[-20] = 20
    2) -7 x (-8) = 56
    3) -12 x (-15) = 180

Kesimpulan :
1. + X + = +
2. + X -  = -
3. - X  + = -
4. - X  -  = +

Pembagian bilangan bulat
Pembagian merupakan operasi kebalikan dari perkalian
Contoh
12 : 4 = 3, karena 4 x 3 = 12 atau 3 x 4 = 12
42 : 7 = 6, karena 7 x 6 = 42 atau 6 x 7 = 42

Sifat-sifat pembagian bilangan bulat
a. Pembagian bilangan positif dengan bilangan positif, hasilnya positif
    Contoh
    1) 63 : 7 = 9
    2) 143 : 11 = 13
b. Pembagian bilangan positif dengan bilangan negatif, hasilnya negatif
    Contoh:
    1) 63 : (-9) = -7
    2) 72 : (-6) = -12
c. Pembagian bilangan negatif dengan bilangan positif, hasilnya negatif
    Contoh:
    1) -63 : 7 = -9
    2) -120 : 10 = -12
d. Pembagian bilangan negatif dengan bilangan negatif, hasilnya positif.
    Contoh:
    1) -72 : (-8) = 9
    2) -120 : (-12) = 10
Menggunakan Sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat
Sifat komutatif
Sifat komutatif (pertukaran) pada penjumlahan dan perkalian.
a + b = b + a
a x b = b x a, berlaku untuk semua bilangan bulat

Contoh:
1) 2 + 4 = 4 + 2 = 6
2) 3 + 5 = 5 + 3 = 8
3) 4 x 2 = 2 x 4 = 8
4) 3 x 2 = 2 x 3 = 6
Sifat asosiatif
Sifat asosiatif (pengelompokan) pada penjumlahan dan perkalian.
(a + b) + c = a + (b+c)
(a x b) x c = a x (bxc), berlaku untuk semua bilangan bulat
Contoh:
1) (2+4) + 6 = 2 + (4+6) = 12
2) (3+6) + 7 = 3 + (6+7) = 16
3) (3x2) x 4 = 3 x (2x4) = 24
4) (3x5) x 2 = 3 x (5x2) = 30
Sifat distributif (penyebaran)
a x (b + c) = (a x b) + (a x c), yang berlaku untuk semua bilangan bulat.
Contoh
1) 4 x (5 + 2) = (4 x 5) + (4 x 2) = 28
2) 5 x (7 + 3) = (5 x 7) + (5 x 3) = 50

Metode guru yang bisa digunakan sebagai berikut:
Metode Pembelajaran, Games, Tanya Jawab, dan Latihan dengan Alat/Bahan dan Sumber Belajar
Buku Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas 4,
Buku lain yang relevan
Kegiatan keseharian yang relevan
Media Pembelajaran


Tingkatkan Kemampuan Membaca Siswa Dengan Metode E-Learning

Bagi sebagian orang membaca adalah kegiatan yang membosankan. apalagi pembaca lambat mereka menggap hanya buang-buang waktu untuk membaca artikel yang begitu bnnyak nian terpapar dalam sebuah buku maupun dari presentasi salah satu narasumber, masalah ini melanda tak hanya pada siswa yang notabene masih berusia belia namun rekan-rekan guru pun tak ternampikkan masalah seperti ini ada saja.

Harus diakui selama ini, kebanyakan guru Guru Kelas lebih sering dan banyak menggunakan metode konvensional dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya pembelajaran membaca pemahaman. Sumber bacaan diperoleh dari buku teks atau paket, atau bahkan LKS yang telah disediakan sekolah.
Pada pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman dengan metode konvensional, guru lebih banyak mendominasi, sementara siswa terkesan pasif dan hanya mendengar dan menerima yang diperintahkan oleh guru. Kalimat perintah, seperti buka halaman sekian, baca dalam hati kemudian jawab pertanyaan bacaan sesuai dengan isi bacaan sudah terbiasa didengar oleh siswa sejak SD. Tentu saja, hal ini menjadikan siswa bosan dan makin menurunkan minat baca mereka. Terlebih lagi, guru tidak menyadarinya selama ini, dan terus saja berlangsung tanpa solusi yang pasti.
Sebenarnya banyak sekolah yang sudah melengkapi fasilitas belajar yang berkaitan dengan elektronik guna membantu proses pembelajaran, khususnya di sekolah-sekolah negeri dan swasta. Namun sayang,  terkadang hal ini diabaikan oleh kebanyakan guru yang masih menganggap sulit dan merepotkan dengan istilah gaptek atau gagap teknologi. Akibatnya, banyak fasilitas yang telah tersedia mubazir dan tidak terpakai karena tak dimanfaatkan fungsi dan peranannya. Terlebih lagi, sudah banyak siswa yang membawa laptop sebagai penunjang belajar mereka yang tentu saja sebenarnya menguntungkan bagi guru bahasa Indonesia  yang tidak perlu repot lagi menggunakan laboratorium media informatika yang juga sering digunakan oleh guru TIK.
Lihat Contoh Media Pembelajaran E-Learning 

E-learning merupakan suatu teknologi
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.36 Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning.

Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah sebagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk ‘discussion group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.

Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, dosen/guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah siswa. siswa mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ siswa  memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Siswa membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukanpertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas.


Tiga Skenario Kemdikbud Atasi Gangguan Asap

Asap tebal yang menyelimuti sebagian Republik Indonesia menjadi perhatian khusus pada bidang pendidikan, hal ini dikarenakan tebalnya kabut asap sangat mengganggu kesehatan manusia tak terkecuali kesehatan siswa pada dunia pendidikan.

Himbauan dan arahan dari stakeholder terkait mengingatkan kadar ISPU asap pada suatu daerah yang jika melebih ambangnya maka sekolah harus diliburkan untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada kesehatan akibat kabut asap ini.

Persoalan atau solusi akan kabut asap ini tidak serta merta menjadi solusi yang klop untuk meliburkan sekolah, yang jadi pertanyaan bagaimana proses belajar mengajarnya? sejauh mana ketinggalan materi dalam pembelajaran dan tentunya memiliki dampak pada Ujian Sekolah/UN, UAS serta lainnya.

Strategi kemdikbud perlu kita perhatikan bersama, dalam surat edaran yang telah di kirim ke dinas-dinas pendidikan tiap daerah jelasnya ada tips khusus kemdikbud untuk mewujudkan solusi-solusi baru akan dampak lainnya dari hilangnya proses kegiatan belajar mengajar dan materi pelajaran yang terabaikan akaibat kabut asap ini.




Diharapkan, dengan adanya skenario tersebut ketuntasan belajar siswa tercapai. Merekapun terhindar dari gangguan asap yang semakin mengkhawatirkan

Forum Ilmiah Guru Jenis dan Karakteristiknya

Berbagai jenis forum ilmiah yang kita ketahui merupakan salah satu bagian unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan atau PKB bagi guru, tahukah bapak ibu apa itu forum ilmiah ?
Forum Ilmiah merupakan tempat, wadah atau wahana melakukan kegiatan presetasi ilmiah, begitu banyak jenis forum ilmiah yang mesti bapak ibu ketahui dari tujuan dan maksud pelaksanaannya.

Forum ilmiah dalam skala terbatas ini bisa saja terjadi misal seorang guru melakukan presentasi pada makalahnya pada kegiatan Kelompok Kerja Guru/KKG maupun MGMP, kegiatan ini dapat menjadi suatu latihan bagi guru kelak nantinya pada kalangan yang lebih luas
Baca Juga Cara Menulis Karya Ilmiah yang baik dan benar

Mengenal forum ilmiah guru ini cukup penting kiranya dari setiap kita akan, sedang dan tengah mengikuti kegiatan forum ilmiah tersebut, nah untuk itu mari kita simak satu persatu.

Forum Ilmiah Guru Nama dan maksud tujuannya sebagai berikut:
1. Seminar
Seminar, forum ilmiah yang membahas suatu permasalahan yang dikemas dalam satu tema besar seminar. Tema besar tersebut dapat diperinci menjadi beberapa topik pembahasan. Dengan demikian, proses seminar diawali dengan presentasi dari pemakalah utama yang bersifat umum untuk membahas tema besar seminar, kemudian diikuti dengan presentasi dari pemakalah topik-topik khusus.  biasanya diikuti dengan diskusi-diskusi antar peserta dan pemakalah
Tujuan seminar adalah untuk mencari suatu pemecahan atau mencapai suatu kesepakatan sehingga biasanya diakhiri dengan kesimpulan, keputusan bersama, bahkan resolusi atau rekomendasi.

2. Lokakarya
Lokakarya atau workshop merupakan forum ilmiah yang membahas suatu karya. Lokakarya seringnya diawali dengan presentasi tentang suatu karya atau cara menghasilkan karya oleh pemakalah dan dilanjutkan dengan kegiatan menghasilkan karya.
Tujuan lokakarya atau workshop adalah menghasilkan karya atau produk misalnya proposal penelitian, model pembelajaran, dan sebagainya.

3. Simposium
Simposium biasanya menunjukan atau menampilkan topik permasalahan yang dibahas dari berbagai sudut pandang atau dari berbagai aspek oleh para ahli.  Pembicara dalam simposium terdiri atas pembahas utama dan presenter banding yang memberikan pandangan dari sudut pandang berbeda atau dari aspek yang berbeda.  Dalam simposium, moderator juga diperlukan untuk mengatur jalannya diskusi dan tanya jawab, yaitu setelah presentasi oleh berbagai pihak selesai baru kemudian peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, tanggapan atau sanggahan.
Tujuan simposium adalah memperoleh pemahaman yang benar dan lengkap mengenai suatu topik.

4. Konferensi

Konferensi merupakan Forum pertemuan ilmiah yang berisi diskusi tentang satu persoalan yang dihadapi bersama, misalnya konferensi tentang bahaya narkoba bagi siswa.

Tujuan konferensi adalah untuk memperoleh solusi atas persoalan tersebut yang menjadi kesepakatan dan komitmen bersama.

Kesulitan Belajar Siswa SD Bagaimana Peran Guru Kelas Dalam Menanganinya
Dalam suatu mapel atau mata pelajaran harus diyakini lebih dominan kejadian pada mata pelajaran yang tersajikan oleh guru ada saja siswa atau salah satu siswa yang mengalami kesulitan belajar, atau kesulitan menerima apa yang kita sampaikan, yah bahasa lazimnya terjadinya kesulitan belajar pada siswa yang harus kita ketahui, apa itu Kesulitan Belajar ? ciri-ciri dan penanganannya jika terjadi pada siswa Bapak/Ibu sekalian.

Children - primary school age children assume that learning should be at school and
given by the teachers rather than by the parents, so that this assumption is no longer willing to lead children to learn at home. Children - children still assumes that learning is an activity that is boring, because it should be prosecuted (both parents and teachers) to always learn and task - the task given by the teacher

Jika kita artikan
Anak – anak usia sekolah dasar menganggap bahwa belajar itu harus di sekolah dan

diberikan oleh guru bukan oleh orang tua, sehingga anggapan ini mengakibatkan anak tidak mau lagi belajar di rumah. Anak – anak masih menganggap bahwa kegiatan belajar merupakan kegiatan yang membosankan, karena harus dituntut (baik orangtua maupun guru) untuk selalu belajar dan mengerjakan tugas - tugas yang diberikan oleh guru

Masalah – masalah atau hambatan dalam belajar itu tidak hanya dialami oleh murid – murid yang
terbelakang saja. Tetapi juga dapat menimpa yang pandai atau yang cerdas.
a. Pada dasarnya masalah belajar dapat di golongkan menjadi :
  • Sangat cepat dalam belajar.
  • Keterlambatan akademik: murid – murid yang memiliki intelgensi normal tapi tidak
  • bisa memanfaatkan secara baik .
  • Lambat belajar: yaitu murid – murid yang tampak memiliki kemampuan yang kurang
  • memadai.
  • Kurang motivasi belajar: murid – murid yang kurang semangat dalam belajar.
  • Sikap dan kebiasaan buruk dalam belajar.
  • Kehadiran di sekolah
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi nya
a. Internal mencakup
⇒ Kondisi fisik, ( seperti kesehatan organ tubuh )
⇒ Kondisi psikis ( seperti kemampuan intelktual )
⇒ Emosional dan kondisi sosial ( seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan )

Learning disabilities are problems faced by individuals associated with
belajar.Menurut activity (Grossman, 2001) learning difficulties is a condition where
a feat not achieved in accordance with standard criteria that have been ditetapkan.Senada with
it is, Sugihartono, et al. (2007) explains that the difficulty of learning is a
symptoms appear on the learner characterized by learning achievement
low or below a predetermined norms

Perilaku guru dapat mempengaruhi keberhasilan belajar, misalnya guru yang bersifat
otoriter akan menimbulkan suasana tegang, hubungan guru siswa menjadi kaku,
keterbukaan siswa untuk mengemukakan kesulitan-kesulitan sehubungan dengan pelajaran
itu menjadi terbatas.
Oleh karena itu, guru harus dapat menerapkan fungsi bimbingan dalam kegiatan
belajar – mengajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses belajar
mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu:
  • a. Mengarahkan siswa agar lebih mandiri
  • b. Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa.
  • c. Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, rendah hati, menyenangkan.

Perkembangan Kemampuan Intelektual Keragaman Peserta Didik Berdasarkan Ciri-Cirinya

Menurut piaget, pada tahap operasional konkrit pada usia anak 5-7 tahun anak dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatu pada umumnya mereka berusia ini hingga 11 tahun.
Berpikir Operasional anak-anak dapat menggunakan simbol, melakukan berbagai bentuk kegiatan operasional, yaitu kemampuan aktifitas mental sebagai kebalikan aktifitas jasmani.

Kita flash back Jean Piaget membagi perkembangan kognitif atas empat fase:
1. Sensor Motorik (0,0-2,0)
2. Pra Operasional (2,0-7,0 tahun)
3. Operasional Konkret  (7,0 -11;0 tahun)
4. Operasional Formal (11,0-15, 0 tahun)

Perkembangan Intelektual sangat bergantung pada berbagai faktor utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani pergaulan dan pembinaan orang tua, jika terjadi gangguan intelektual tersebut anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan mental dan kurang aktif dalam pergaulan.

Perkembangan Emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru disekolah, perbedaan emosional ini juga bisa dilihat berdasarkan ras, budaya,etnik dan bangsa.

Perkembangan Emosional juga dipengaruhi dengan adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh.  Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak.
Misal, Sangat di manjakan, terlalu banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya, akan tetapi sikap orang tua tersebut sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum sekalipun kesalahan anak hanya sepele

Memahami Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah Dasar Pembahasan Kisi-Kisi UKG

Memahami karakteristik peserta didik usia sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual, sosialemosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya. hal ini pun menjadi dasar Uji Kompetensi Guru/UKG
Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar Menurut Nasution (1993 : 44)

 masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga sebelas atau duabelas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap dan tingkah lakunya. Masa usia sekolah dianggap oleh Suryobroto (1990 : 119) sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Tetapi dia tidak berani mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya, masa ini dapat diperinci menjadi dua fase, yakni : 1.    
Masa Kelas Rendah Sekolah Dasar Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah sebagai berikut :
 a)      Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah.
 b)      Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang tradisional.
c)      Adanya kecenderungan memuji sendiri.
 d)      Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain, kalau hal itu dirasainya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
e)      Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
f)       Pada masa ini (terutama pada umur 6-8 tahun) anak menghendaki nilai yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.


Menjelaskan tahapan perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik

Perkembangan Fisik Perkembangan fisik peserta didik usia SD/MI meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan. Perubahan proporsi atau perbandingan antar bagian tubuh yang membentuk postur tubuh, pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan lemak. Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak menentukan ketrampilan anak bergerak. Pertumbuhan dan perkembangan mempengaruhi cara memandang dirinya sendiri dan orang lain, yang berdampak dalam melakukan penyesuaian dengan dirinya dan orang lain.

Menjelaskan implikasi prinsip-prinsip perkembangan perilaku dan pribadi peserta didik terhadap pendidikan

Pertumbuhan fisik peserta didik usia SD/MI lebih lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa sebelumnya (masa bayi dan TK awal) dan sesudahnya (masa puber dan remaja). Jadwal waktu pertumbuhan fisik tiap anak tidak sama, ada yang berlangsung cepat, sedang atau lambat. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik anak antara lain:
1.   Pengaruh keluarga 
a.   Faktor keturunan Membuat anak menjadi gemuk dari pada anak lainnya. Perbedaan ras suku bangsa (orang Amerika, Eropa, dan  Australia cenderung lebih tinggi dari pada orang Asia).

b.  Faktor lingkungan Akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan anak tersebut. Lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.
 c.  Jenis Kelamin Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan dengan anak perempuan, kecuali pada usia 12-15 tahun.
d.   Gizi dan kesehatan Anak yang memperoleh gizi cukup biasanya lebih tinggi tubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa puber dibandingkan dengan anak yang bergizi kurang. Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai tubuh sehat dan lebih berat dibanding dengan anak yang sering sakit.
 e.   Status sosial dan ekonomi Fisik anak dari kelompok ekonomi rendah cenderung lebih kecil dibandingkan dengan keluarga ekonomi cukup atau tinggi. Keadaan status ekonomi mempengaruhi peran keluarga dalam memberi makan, gizi dan pemeliharan kesehatan serta kegiatan pekerjaan yang dilakukan anak.

 f.   Gangguan Emosional Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenalin yang berlebihan. Hal ini menyebabkan berkurangnya hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitary, akibatnya anak mengalami keterlambatan perkembangan memasuki masa puber. Bagi anak usia SD atau MI, reaksi yang diperlihatkan orang lain terutama oleh teman-teman sebayanya terhadap ukuran dan proporsi tubuhnya mempunyai makna penting. Apabila ukuran-ukuran dan proporsi tubuh anak berbeda jauh dengan teman sebayanya anak akan merasa kelainan, tidak mampu dan rendah diri.

Membedakan berbagai jenis kecerdasan peserta didik berdasarkan ciri-cirinya
Selain itu, struktur pengetahuan juga menjelaskan tentang tingkat kecerdasan peserta didik pada usia SD. Dengan adanya beberapa kecerdasan tiap individu, maka memungkinkan terjadinya kecerdasan ganda (multiple intelligence),  sehingga perlu diadakannya semacam tes untuk mengetahui tingkat intelegensi tiap individu yang biasa disebut dengan IQ (Intelligence Quotient). IQ merupakan hasil bagi usia mental dengan usia kronologis atau kalender dikalikan seratus. Dengan berpegang pada satuan ukuran IQ, maka kecerdasan dikategorikan dalam tabel berikut (Sukmadinata, 2003):

IQ Kategori 140-…… Genius
130-139 Sangat cerdas 1
20-129 Cerdas
110-119 Di atas normal
90-109 Normal
80-89 Di bawah normal
70-79 Bodoh
50-69 Debil
 25-49 Imbecil

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek atau kecerdasan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD atau MI, antara lain:
1.    Kondisi organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui pesan indera dalam perjalanannya ke otak (kesadaran).
2.    Intelegensi mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti dan memahami sesuatu.
3.    Kesempatan belajar yang diperoleh anak.
4.    Tipe pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat pengalaman seara tidak langsung dari orang lain atau informasi dari buku.
5.    Jenis kelamin karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan telah dilatih sejak kecil dengan cara yang sesuai dengan jenis kelamin.

6.    Kepribadian pada anak dalam memandang kehidupan dan menggunakan suatu kerangka acuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Dalam perkembangan intelek, dapat juga terjadi
 kendala dan berbahaya yang mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan, di antaranya:
1.    Kelambanan perkembangan otak yang dapat mempengaruhi kemampuan bermain dan belajar di sekolah serta penyesuaian diri dan sosial anak, yang dikarenakan oleh tingkat kecerdasan di bawah normal dan kurangnya mendapat kesempatan memperoleh pengalaman.

 2.    Konsep yang salah yang disebabkan oleh informasi yang salah, pengalaman terbatas, mudah percaya, penalaran yang keliru, dan imajinasi yang sangat berperan, pemikiran tidak realistis, serta salah menafsirkan arti. Kesulitan dalam membenarkan konsep yang salah dan tidak relistik. Hal ini biasanya berkenaan dengan konsep diri dan sosial yang bisa membingungkan anak.


Cara Menulis Karya Ilmiah Yang Baik Dan Benar

Seorang guru dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan/PKB harus memenuhi unsur ini dalam kenaikan pangkat dan jabatan tertentu seperti sebelumnya lihat petunjuk pelaksana kenaikan pangkat dari segala ketentuan tersebut ada baiknya kita mempelajari lebih awal petunjuk tentang penulisan karya ilmiah yang baik dan benar sesuai aturan yang berlaku. Banyak hal yang dasar dari sebuah karya ilmiah. misal PTK /Penelitian Tindakan Kelas, Skripsi, Tesis, Disertasi dsb.

Memang jika kita telah mengetahui struktur karya ilmiah yang baik maka akan terasa mudah menyusun komponen-komponen penting dalam sebuah karya ilmiah yang kami jabarkan sebagai berikut:
  • Bagian dalam tulisan ilmiah, antara lain:
  • Judul tulisan
  • Nama dan alamat penulis
  • Abstrak
  • Pengantar
  • Permasalahan penelitian
  • Bahan dan cara penelitian
  • Hasil
  • Pembahasan
  • Simpulan
  • Ucapan terima kasih
  • Daftar pustaka
  • Daftar Isi
Kita rincikan satu persatu sebagai berikut:
1. Judul Tulisan
  • Judul dibuat lebih spesifik yang menggambarkan isi tulisan.
  • Judul hendaknya jangan terlalu panjang.
  • Judul tidak boleh mengandung singkatan.
  • Judul tidak harus berupa kalimat lengkap
2. Nama dan Alamat Penulis
Pada jurnal ilmiah gelar akademik tidak dicantumkan. Apabila terdapat lebih dari satu penulis, maka penulis yang kontribusinya lebih banyak diletakkan di urutan pertama. Alamat posel (e-mail) juga lazim digunakan.

3. Abstrak 
Abstrak tulisan ilmiah harus:
1. Menyatakan tujuan utama dan skop penelitian,
2. Menerangkan bahan dan metoda yang dipakai,
3. Meringkas hasil,
4. Menyatakan simpulan utama.

4. Pengantar
Pengantar harus mengandung empat hal pokok:
1. Sifat dan permasalahan yang akan diteliti
2. Tinjauan kepustakaan
3. Cara dan bahan penelitian
4. Hasil penelitian

Pengantar harus memuat jawaban atas pertanyaan apa (what), di mana (where), kapan (when), mengapa (why) dan bagaimana (how).

Akhir-akhir ini penipisan lapisan ozon telah menyebabkan masuknya sinar matahari ke bumi tidak tersaring (kondisi tidak stabil). Akibatnya, kita kan menanggung tingginya insiden kanker dan biaya medis (kerugian akibat kondisi tidak stabil).

Pernyataan solusi masalah, misalnya:
Kita dapat mencegah akibat-akibat ini bila kita melarang pemakaian bahan kimia yang mendegredasi lapisan ozon (solusi).

5. Permasalahan Penelitian
Penegasan permasalah yang ditulis dalam pengantar. Bahasan konteks harus lebih luas.

6. Bahan 
Dalam bahan penelitian harus disebutkan:
a. Asal penelitian
b. Jumlah penelitian
c. Waktu pendataan bahan
Jika penelitian menggunakan subjek manusia, maka diperlukan persetujuan dari yang bersangkutan

7. Cara Penelitian (Metodologi)
Harus memperhatikan fakta (reliabilitas) dan keaslian data (validitas).
Reliabilitas adalah kemampuan mengukur untuk mendapatkan hasil yang konsisiten.
Validitas menunjukkan bahwa ukuran pada dasarnya mengukur pokok-pokok yang akan diukur.

8. Hasil
  • Hanya memuat hasil penelitian saja.
  • Tidak memuat interpretasi dan diskusi.
  • Berisi fakta berupa tabel, gambar, grafik dalam teks.
  • Dimulai dengan deskripsi sampel, misalnya jumlah dan ketegori sampel, dan pemaparan hasil penelitian dengan menggunakan lambang dan bilangan.
Misalnya:
Ceria menonton film Harriet the spy sampai sepuluh kali karena senang dengan alurnya.Di antara 50 penggali pada penggalian situs arkeologi di Sangiran, 3 orang bergelar Profesor, 5 orang bergelar Doktor, 7 orang bergelar Sarjana Utama, sedangkan lainnya bergelar Sarjana, Sarjana Muda, dan lulusan SMU.
9. Pembahasan
Elemen yang biasa dimuat dalam pembahasan adalah:
1. Tinjauan penemuan
2. Pertimbangan tentang penemuan dalam kaitannya dengan penelitian terdahulu yang relevan.
3. Implikasi penemuan dengan teori/pustaka acuan
4. Pemeriksaan terhadap hasil yang mendukung dan tidak mendukung hipotesis
5. Keterbatasan studi yang berakibat pada simpulan dan generalisasi studi.
6. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
7. Implikasi studi untuk praktek atau studi terapan (opsoinal).

Contoh.
Penemuan letak carries pada akar gigi geraham bawah pada pengunyah daun koka dalam penelitian ini kosisten dengan laporan Turner (1993) yang menemukan kerusakan alveolar pada gigi-gigi pipi.

Pembahasan yang baik menginterpretasikan setiap hasil dalam konteks teoritis yang dipaparkan dalam tinjauan pustaka pada Pengantar. 

10. Simpulan
Hal mendasar dalam simpulan adalah buat pertanyaan “apa hasil yang paling penting dari penelitian ini?” sebelum menuangkannya dalam kalimat. Simpulan biasanya disertai dengan saran akan penelitian selanjutnya

11. Ucapan Terima Kasih
Subbab ini ditulis untuk mereka yang membantu penelitian dan penulisan sampai selesai. Ucapan terima kasih pada lembaga/ instansi, pembimbing,  dan keluarga

12. Daftar Pustaka
Nama pengarang, tahun  terbit, judul buku, nama penerbit, dan kota penerbit.
Contoh:
Buku 
Amstrong, Karen. 1994. A history God. Ballantine Books, New York.

  Jurnal
Small, J.Kenneth. 1997. (judul artikel) The giving of Hostages. (jurnal) Politics and the Life Sciences. (vol dan nomor) 16(1):77-85 (halaman).

  Makalah yang dipresentasikan dalam seminar
Indriati, E. 1999. Molar Patterns on Javanese People. Makalah dipresentasikan pada the Internasional Conference on Paleoanthropology, October 14-19, Beijing.


b. Meskipun definisi dan pengertian yang berbeda-beda, kebanyakan ahli sepakat bahwa tingkah laku altruitis pada manusia adalah tindakan sukarela dengan tujuan untuk kepentingan orang lain, dan lebih merupakan tujuan tingkah laku itu sendiri daripada alat untuk mendapatkan ganjaran dari luar (Bartal, 1976; Mussen dan Eisenberg, 1977; Staub, 1979)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget